Harga emas kembali menunjukkan performa positif pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026. Emas mencatat kenaikan untuk keempat kalinya berturut-turut, memperpanjang tren bullish yang sudah terlihat sejak akhir pekan lalu. Lonjakan ini dipicu oleh ketidakpastian global terkait kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Sentimen pasar yang cemas terhadap potensi gangguan perdagangan internasional membuat investor beralih ke aset aman. Emas, sebagai salah satu instrumen paling dicari saat ketidakstabilan ekonomi melanda, langsung mendapat dorongan permintaan. Kenaikan harga ini juga didukung oleh melemahnya dolar AS yang membuat komoditas ini lebih terjangkau bagi investor global.
Faktor yang Mendorong Kenaikan Harga Emas
Lonjakan harga emas tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor penting yang berkontribusi terhadap tren positif ini. Mulai dari kebijakan ekonomi global hingga dinamika pasar keuangan internasional, semuanya saling terhubung.
1. Kebijakan Tarif Baru Donald Trump
Salah satu pemicu utama adalah rencana tarif baru yang diusulkan oleh Donald Trump. Meskipun belum secara resmi diterapkan, pengumuman awal saja sudah menciptakan gejolak di pasar. Investor langsung waspada terhadap potensi perlambatan perdagangan global dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Tarif ini diperkirakan akan memengaruhi sejumlah negara mitra dagang AS, termasuk Tiongkok dan Uni Eropa. Kebijakan proteksionis seperti ini biasanya memicu volatilitas pasar, dan emas menjadi pilihan utama investor untuk melindungi nilai portofolio mereka.
2. Melemahnya Dolar AS
Dolar AS yang melemah memberikan tekanan tambahan pada harga emas. Saat nilai tukar dolar turun, harga emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor asing. Ini mendorong permintaan global terhadap logam mulia tersebut.
Selain itu, melemahnya dolar juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan penurunan suku bunga atau stimulus ekonomi, yang pada akhirnya mendukung harga emas.
3. Sentimen Inflasi yang Meningkat
Indikator inflasi global kembali naik dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan harga energi, bahan baku, dan kebutuhan pokok memicu kekhawatiran akan daya beli masyarakat. Emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, sehingga permintaan terhadap logam mulia ini meningkat secara signifikan.
Investor jangka panjang mulai menimbun emas sebagai cadangan nilai. Sementara trader jangka pendek memanfaatkan fluktuasi harga untuk mendapatkan keuntungan dari volatilitas pasar.
Pergerakan Harga Emas di Berbagai Pasar Global
Kenaikan harga emas tidak hanya terjadi di pasar domestik. Di pasar internasional, logam mulia ini juga mengalami tren positif. Berikut adalah rincian harga emas di beberapa pasar utama pada 23 Februari 2026.
| Pasar | Harga Emas per Gram (dalam USD) | Kenaikan (%) |
|---|---|---|
| New York | 65,80 | +1,2% |
| London | 65,75 | +1,1% |
| Tokyo | 66,10 | +1,4% |
| Frankfurt | 65,95 | +1,3% |
| Jakarta | 980.000 | +1,5% |
Harga emas di pasar Asia tercatat mengalami kenaikan tertinggi dibandingkan pasar lain. Ini menunjukkan bahwa investor Asia tenggara dan Timur Jauh sangat responsif terhadap isu geopolitik global.
Dampak terhadap Investasi Emas di Indonesia
Di Indonesia, harga emas batangan yang diperdagangkan oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga mengalami penyesuaian. Investor ritel dan institusional mulai menunjukkan minat yang tinggi terhadap emas sebagai instrumen investasi.
1. Harga Emas Antam Hari Ini
Harga emas Antam pada Senin, 23 Februari 2026, dibanderol di kisaran Rp980.000 per gram. Angka ini naik sekitar Rp15.000 dibandingkan harga penutupan perdagangan Jumat lalu. Lonjakan ini terjadi seiring dengan tren global yang positif.
2. Permintaan Emas Batangan Meningkat
Sejumlah cabang Antam di seluruh Indonesia melaporkan lonjakan permintaan emas batangan. Investor mulai membeli emas sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi krisis ekonomi global. Bahkan, beberapa unit cabang sempat kehabisan stok emas ukuran kecil.
3. Minat Investor Ritel Naik Signifikan
Investor ritel, terutama kalangan masyarakat menengah ke bawah, mulai membeli emas dalam jumlah kecil. Tren ini menunjukkan bahwa emas tidak hanya menjadi pilihan investor besar, tetapi juga menjadi alternatif tabungan jangka pendek bagi masyarakat umum.
Strategi Investasi Emas di Tengah Ketidakpastian Global
Investasi emas memang menjanjikan, tetapi tidak serta merta bisa memberikan keuntungan tanpa strategi. Dalam kondisi seperti ini, penting untuk memahami cara investasi yang tepat agar tidak terjebak pada keputusan emosional.
1. Pilih Instrumen Emas yang Tepat
Ada berbagai instrumen investasi emas yang bisa dipilih, mulai dari emas batangan, emas digital, hingga reksa dana emas. Masing-masing memiliki kelebihan dan risiko yang berbeda. Investor perlu menyesuaikan pilihan dengan tujuan finansial dan toleransi risiko.
2. Lakukan Diversifikasi Portofolio
Emas sebaiknya tidak menjadi satu-satunya aset dalam portofolio investasi. Kombinasi dengan instrumen lain seperti saham, obligasi, atau properti akan memberikan keseimbangan risiko dan return. Diversifikasi ini penting untuk menghindari overexposure terhadap satu jenis aset.
3. Gunakan Strategi Dollar Cost Averaging (DCA)
DCA adalah strategi investasi yang melibatkan pembelian berkala dalam jumlah tetap, terlepas dari fluktuasi harga. Dengan strategi ini, investor bisa meminimalkan risiko timing market dan memperoleh harga rata-rata yang lebih baik dalam jangka panjang.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meskipun emas dianggap aman, bukan berarti tanpa risiko. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar investasi emas tetap menguntungkan.
1. Fluktuasi Harga Jangka Pendek
Harga emas bisa sangat fluktuatif dalam jangka pendek. Investor yang terlalu reaktif terhadap pergerakan harian bisa saja mengambil keputusan yang kurang tepat. Penting untuk tetap fokus pada tujuan investasi jangka panjang.
2. Biaya Penyimpanan dan Asuransi
Bagi investor yang memilih emas fisik, biaya penyimpanan dan asuransi bisa menjadi beban tersendiri. Emas yang disimpan di rumah atau bank vault biasanya memerlukan perlindungan tambahan, yang tentunya berdampak pada return investasi.
3. Likuiditas Terbatas pada Produk Tertentu
Tidak semua bentuk emas mudah dicairkan. Emas digital atau produk investasi emas yang tidak terdaftar di bursa bisa menghadapi kendala likuiditas saat investor ingin menjualnya dalam kondisi darurat.
Perbandingan Instrumen Investasi Emas
Setiap instrumen emas memiliki karakteristik berbeda. Berikut adalah perbandingan antara emas fisik, emas digital, dan reksa dana emas.
| Jenis Instrumen | Likuiditas | Biaya | Kemudahan Akses |
|---|---|---|---|
| Emas Batangan | Sedang | Tinggi | Rendah |
| Emas Digital | Tinggi | Rendah | Tinggi |
| Reksa Dana Emas | Tinggi | Sedang | Tinggi |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa emas digital dan reksa dana emas menawarkan akses yang lebih mudah dan biaya yang lebih rendah. Namun, emas fisik tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang mengutamakan kepemilikan nyata.
Kesimpulan
Harga emas yang terus naik sejak akhir pekan lalu mencerminkan situasi ketidakpastian global. Investor dari berbagai belahan dunia mulai beralih ke emas sebagai benteng pertahanan terhadap risiko ekonomi. Di Indonesia, minat terhadap emas batangan juga meningkat, terutama di kalangan investor ritel.
Namun, investasi emas tetap perlu dilakukan dengan strategi yang matang. Pemilihan instrumen yang tepat, diversifikasi portofolio, serta pemahaman terhadap risiko yang ada sangat penting untuk memaksimalkan keuntungan.
Disclaimer: Data dan harga yang disebutkan dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan kondisi pasar pada tanggal 23 Februari 2026. Harga emas dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar global dan faktor makroekonomi lainnya.